Berita HOT :
Home » » MTA, NU, Muhammadiyah, LDII " Antara Anjing halal vs Tahlilan "

MTA, NU, Muhammadiyah, LDII " Antara Anjing halal vs Tahlilan "

Sukses besar, itulah hal yang dikatakan kaum kafir ketika mampu memecah belah umat islam yang dulu terkenal sangat tangguh dan sulit dikalahkan. Berbagai tipu muslihat, adu domba, merusak keyakinan tanpa harus meninggalkan agamanya, mungkin beberapa hal dari sekian banyak strategi yang diterapkan kaum kafir, agama lain dalam merusak islam.

Berita yang santer terdengar adalah munculnya jamaah MTA yang terkenal dengan kehebatnnya dalam menafsirkan al Qur'an dan Hadist. Dengan dalih kembali ke ajaran Rosululloh, mereka membuat kajian-kajian yang mengharamkan tahlilan dan menghalalkan Anjing. Benarkah ? Mari kita kaji bersama.
LDII, Muhammadiyah, NU seolah kalah pamor dengan perkembangan organisasi ini. Ada apa dengan MTA ?
Bagi anda yang belajar islam dangkal "masih tahap belajar dasar" alias tak tahu ilmu Fiqih, Ilmu Tafsir, apalagi ilmu tauhid, mungkin hanya bisa ikut sana ikut sini. Tp, sekali lagi cerdaskan diri anda dan gunakan akal anda. Ilmu Tafsir (ilmu terjemah) adalah ilmu yang tidak asal menafsirkan kontekstual tanpa melihat tata aturan/kaidah bahasa dan sastra arabnya. Tidak semua "inna" diartikan sesungguhnya hanya. lengkapnya silahkan Download kajian berikut ini. Nah, setelah anda download dan dengarkan pengajian tersebut silahkan anda berkomentar dan mengambil sikap.
 ___________________________________
Berikut adalah MP3 Pengajian ANJING vs TAHLILAN. Untuk mendownloadnya Klik Di Sini
  ___________________________________
Komentar cerdas anda kami tunggu, dan marilah kita menuju islam yang benar.. Penulis mohon maaf bila ada kata-kata kurang sopan. """""""""""lakum dinukum waliyadin"""""""""""
Bagikan Artikel ini :

+ komentar + 10 komentar

Anonim
26 Agustus 2012 10.40

Sori, menyembunyikan nama,. Saya sudah mendownload mp3nya. apakah pakai sarung ketika sholat jg bidah ? Kalo tidak, Jaman Nabi kan gak ada sarung? Knp MTA tdk bilang bidah pada sarung, Speaker Masjid, dll ?

26 Agustus 2012 21.01

Pake sarung, speaker masjid tidak bid'ah.. Bid'ah macemnya banyak, Dan menurut saya tahlilan adalah sah2 saja. (puter lg MP3nya, pasti anda akan lebih jelas). Pendapat orang bisa berbeda. Wallohu A'lam..

26 November 2012 12.15

tabayun aja mas bro.....saya pendengar mta dah stahun lebih..kata2 Pak Marzuki itu gak bener....cek aja ke mtafm.com atau datangi aja ke solo....cek kebenarannya..

13 Desember 2012 16.22

Keputusan Masalah Diniyyah NU No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926 Tentang
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH , apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.
`
Keterangan :
1. Dalam kitab I’anatut Thalibin, Kitabul Janaiz : MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”Kami menganggap berkumpul di ( rumah keluarga ) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

2. Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan : “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?
Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

“Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN ORANG-ORANG BODOH” agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris). ”

SUMBER: AHKAMUL FUQAHA, SOLUSI PROBLEMATIKA HUKUM ISLAM, KEPUTUSAN MUKTAMAR, MUNAS, DAN KONBES NAHDLATUL ULAMA (1926-2004 M), hal. 15-17, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

13 Desember 2012 16.23

Berkata Imam Asy-Syafi’i رحمه الله : "Aku membenci ma'tam, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru." (Al-Umm 1: 248).
Lihat juga: Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi 2:145, Mughnil Muhtaj 1: 268, Hasyiyatul Qalyubi 1: 353, Al-Majmu' Syarah Muhadzab 5: 286, Al- Fiqhu Alal Madzahibil Arba'ah 1:539, Fathul Qadir 2:142, Nailul Authar 4:148.

Lebih lanjut di Kitab I'anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu'in, juz 2, hal.145 –Kitab rujukan Nahdlatul Ulama (NU) - disebutkan:
نَعَمْ , مَايَفْعَلُهُ النَّاسَ مِنَ اْلإِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلىَ مَنْعِهَا
“Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID'AH MUNGKARAT yang bagi orang yang mencegahnya akan diberi pahala."

Jadi... apa bedanya NU dan MUhammadiyah di dalam perkara Tahlilan/Kenduri Kematian ini???

6 Mei 2013 08.28

mampir ke blog saya ya
ada ulasan juga tentang hal ini

http://nu-watchandcare.blogspot.com

22 Agustus 2013 16.34

Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai dewasa.
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do'akan sudah pasti, karena mendo'akan orang tua, mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan yg sangat mulia.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan.... (menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik, yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll. Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2, lan sakben wedal sak saget e...? Jenengan Tahlilan monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2 daharan e..."
mereka menjawab: "nggih Gus...".

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya, sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk wajib...??
dia jawab gk berani menyampaikan..., takut timbul masalah...
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa dll.

Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini, berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya. tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya, Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang shaf...

Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras dalam berpendapat...
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil khusus sholat jama'ah...
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita do'akan saja yg baik...
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk berkenan...
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
Amin ya Robbal Alamin

Anonim
17 September 2013 15.37

MTA = Anjing halal disembelih
Tahlillan = NU haram dikafirkan

Anonim
18 September 2013 17.33

gitu saja kok repot, kerjakanlah apa yg menurutmu benar dan jangan kerjakan apa yg tdk kau anggap benar, jangan saling mengusik organisasi lain,.

Anonim
23 Februari 2014 11.57

jangan ada perpecahan antar umat islam. lakukanlah apa yang menurutmu benar.
NU,MUHAMMADIYAH,LDII,MTA sama saja. semuanya masih mengikuti ajaran rosul.

Poskan Komentar

Terima Kasih dan Salam Silaturahmi..